About First day of Back to Campus
Hari itu, tepat hari pertama kembali memasuki bangku perkuliahan usai libur yang sangat panjang, hari pertama yang menjadi langkah awal serius dari jenjang berikutnya di setiap semester, awal yang seharusnya dimulai dengan hal berkesan indah dan berbekas di setiap hati mahasiswa tingkat lanjutan, dibalut dengan senyum merekah masing-masing mahasiswa yang bahagia setelah pulang ke halaman rumah tercinta. Derap langkah mantap yang menggema dari parkiran kampus hingga lobi gedung kian melengkapi hari itu. Berbeda denganku yang hari indah itu justru menciptakan perasaan baru. Hari pertama paling berbeda dari semester sebelumnya. Kata "terlambat" adalah kata-kata yang terus terngiang dalam pikiranku, bahkan hingga saat ini. Kata yang paling aku hindari sejak masuk bangku perkuliahan justru datang di hari pertama disemester empat.
Semuanya terasa mengejutkan pada hari itu, mata kuliah Teknik Penulisan Naskah Dakwah. Benakku penuh harap seharusnya hal seperti ini tak pernah terjadi, apalagi aku menyukai dunia menulis, terlebih dosen pengampu mata kuliah ini adalah seorang Profesor hebat karena beliau adalah seorang guru besar kampus, Prof. Ngainun Naim, nama yang pertama kali kudengar ketika beliau ada disebuah acara bincang-bincang.
Rasa takut untuk masuk kelas, terlebih akibat aku terlambat itu menghimpitku. Kolom chat bergulir saat itu untuk aku mencari nama teman-teman yang sekiranya bisa membantuku untuk menemukan lokasi kelas. Langkah cemas penuh harap ketika menyusuri lorong kelas. Tiba saat disebelah pintu kelas, tubuhku terasa kaku untuk meminta izin masuk kelas, tapi temanku meyakinkanku untuk lebih baik masuk daripada tidak sama sekali.
Didepan pintu, lamat-lamat aku mendengarkan sedikit penjelasan beliau yang membuatku benar-benar mantap memasuki kelas. Ternyata penjelasan yang beliau sampaikan dalam kelas benar-benar penjelasan yang selama ini aku cari, penjelasan singkat, namun padat dan penuh dengan arti. Penjelasan yang menggunakan bahasa mudah dimengerti, contoh-contoh yang mudah dibayangkan dalam dunia menulis, terlebih basic kepenulisan yang selama ini dianggap sepele. Mulai dari apa itu berpikir, berkhayal, bahkan melamun sebagai modal untuk menulis. Pentingnya membaca ketika kita ingin menulis, dari penjelasan beliau pun dijelaskan bahwa kita baru bisa mengembangkan tulisan kita ketika kita sudah mampu untuk membayangkan apa yang kita tulis. Dan pada hari itu pun aku berjanji pada diriku, untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Komentar
Posting Komentar